SITUBONDO (Reportase.today) — Kebutuhan bahan baku pendukung industri smelter nikel nasional menjadi perhatian serius seiring pesatnya hilirisasi pertambangan di Indonesia. Founder sekaligus Owner Bandar Indonesia Grup (BIG), HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, memaparkan bahwa hingga tahun 2025 Indonesia tercatat memiliki 44 smelter nikel yang aktif beroperasi di berbagai wilayah.
Dalam pemaparannya, Gus Lilur merinci sebaran smelter nikel tersebut, dengan konsentrasi terbesar berada di Maluku Utara sebanyak 18 smelter, disusul Sulawesi Tengah dengan 17 smelter. Sementara itu, Sulawesi Tenggara memiliki tiga smelter dan Sulawesi Selatan satu smelter. Puluhan smelter tersebut menjadi tulang punggung industri hilirisasi nikel nasional yang terus didorong pemerintah.
Namun demikian, Gus Lilur menegaskan bahwa keberlangsungan produksi nikel tidak hanya bergantung pada bijih nikel semata. Salah satu komponen krusial dalam proses produksi di smelter adalah kapur. “Tanpa kapur sebagai campuran utama dalam proses produksi, nikel tidak akan pernah menjadi nikel siap olah,” ujarnya.
Indonesia, lanjut Gus Lilur, sejatinya memiliki potensi sumber daya kapur yang sangat melimpah. Tambang-tambang kapur tersebar di berbagai daerah, meski sebagian besar berlokasi puluhan kilometer dari garis pantai, sehingga menimbulkan tantangan tersendiri dalam aspek logistik dan distribusi ke kawasan industri smelter.
Bandar Indonesia Grup (BIG) disebut memiliki kekuatan signifikan dalam sektor ini. Perusahaan tersebut mengelola sedikitnya 275 tambang kapur yang tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Keunggulan BIG semakin strategis dengan keberadaan puluhan tambang kapur di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang lokasinya berada tepat di tepi laut.
Menurut Gus Lilur, posisi geografis tersebut menjadi keunggulan kompetitif karena memudahkan distribusi kapur melalui jalur laut ke berbagai kawasan smelter nikel di Indonesia. BIG, kata dia, telah menyiapkan tambang-tambang kapur di Sumenep untuk menjadi pemasok utama kebutuhan kapur bagi smelter nikel nasional.
Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya memperkuat rantai pasok dalam negeri sekaligus mendukung program hilirisasi industri pertambangan yang berkeadilan. “Ini bukan sekadar bisnis, tetapi bagian dari ikhtiar mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegas Gus Lilur menutup pemaparannya.







