Menimbang Iman dan Nalar: Antara Kepatuhan Buta dan Spirit Ilmu dalam Islam

Editor

Dalam lintasan sejarah peradaban manusia, relasi antara agama dan akal kerap menjadi medan tarik-menarik yang tak pernah benar-benar usai. Sejak era Yunani Kuno, figur seperti Socrates telah menunjukkan bahwa mempertanyakan keyakinan bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan jalan menuju kedalaman ilmu. Meski kala itu ia dicap tidak beragama karena sikap kritisnya terhadap dewa-dewa Yunani, sejarah justru mencatatnya sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam dunia ilmu pengetahuan.

Keterangan Fhoto: Eko Febrianto / Eko Siti Jenar.

Pandangan serupa juga muncul dalam spekulasi sebagian kalangan yang mengaitkan tokoh mitologis Hermes dengan sosok nabi dalam tradisi samawi. Terlepas dari benar atau tidaknya klaim tersebut, satu hal yang dapat ditarik adalah bahwa pencarian kebenaran sering kali melintasi batas-batas budaya, mitos, dan agama. Namun penting ditegaskan, pandangan ini bukanlah posisi penulis, melainkan sekadar refleksi dari diskursus yang berkembang di masyarakat.

Dalam konteks Islam, dinamika antara iman dan akal justru menemukan titik temu yang unik. Islam tidak pernah menutup pintu terhadap tantangan pemikiran, bahkan menjadikannya sebagai sarana penguatan iman. Ajaran Islam bukanlah dogma kaku yang anti kritik, melainkan sistem nilai yang terbuka terhadap dialog intelektual. Di sinilah letak kekuatan Islam sebagai agama yang relevan sepanjang zaman—ia berdiri bukan hanya di atas keimanan, tetapi juga di atas fondasi ilmu pengetahuan.

Namun realitas yang terjadi sering kali bertolak belakang. Banyak yang mengaku memeluk Islam, tetapi meninggalkan esensi ajarannya. Mereka terjebak dalam praktik taqlid buta—mengikuti tanpa memahami—yang justru bertentangan dengan prinsip dasar Islam itu sendiri. Para ulama sejak dahulu telah mengecam sikap ini, karena Islam menuntut umatnya untuk berpikir, menelaah, dan memahami ajaran berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis.

Kritik terhadap praktik keberagamaan yang dangkal sebenarnya telah lama disuarakan. Pada tahun 1930-an, Tan Malaka pernah menyindir bahwa agama hanya membutuhkan jamaah yang patuh. Pernyataan ini kerap disalahpahami sebagai serangan terhadap agama, padahal dalam konteksnya, ia adalah kritik terhadap manipulasi agama oleh oknum politik demi kepentingan kekuasaan, khususnya dalam tubuh Sarekat Islam saat itu.

Baca juga
LSM SITI JENAR Kembali Desak Keras DPRD, Tuntut Keadilan Lingkungan Di wilayah Barat Kabupaten Situbondo

Di tahun 2026, Eko Siti Jenar mencoba meluruskan persepsi tersebut. Ia tidak menolak pentingnya kepatuhan dalam beragama, tetapi mempertanyakan: kepatuhan terhadap apa dan siapa? Dalam Islam, kepatuhan bukanlah kepada individu atau kelompok, melainkan kepada kebenaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Kepatuhan tanpa pemahaman adalah jalan menuju kesesatan, bukan keselamatan.

Kondisi ini semakin diperparah dengan munculnya figur-figur kontroversial yang memanfaatkan kebodohan umat. Klaim-klaim tidak masuk akal—seperti menguasai bahasa semut atau menjadi penjaga neraka—justru mendapatkan tempat di tengah masyarakat yang kehilangan nalar kritis. Fenomena ini menunjukkan betapa jauhnya sebagian umat dari semangat keilmuan yang seharusnya menjadi ciri khas Islam.

Padahal, dalam Al-Qur’an telah ditegaskan melalui QS. Ali ‘Imran ayat 85 bahwa siapa pun yang mencari ajaran selain Islam, maka amalnya tidak akan diterima dan ia termasuk orang yang merugi di akhirat. Ayat ini bukan sekadar peringatan teologis, tetapi juga penegasan bahwa Islam adalah jalan kebenaran yang berbasis ilmu dan petunjuk yang jelas.

Islam bukanlah musuh filsafat, sebagaimana sering dituduhkan. Justru dalam sejarahnya, Islam melahirkan tradisi filsafat yang kuat—dari Al-Farabi hingga Ibnu Sina—yang menunjukkan bahwa akal dan wahyu dapat berjalan beriringan. Filsafat dalam Islam bukan untuk menggugat Tuhan, tetapi untuk memahami ciptaan-Nya secara lebih dalam.

Akhirnya, penting untuk kembali menegaskan bahwa Islam adalah kebenaran. Namun kebenaran itu tidak akan tampak jika umatnya sendiri menjauh dari ajaran yang sebenarnya. Apa pun yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadis, tidak dapat diklaim sebagai bagian dari Islam.

Keterangan Fhoto: Eko Febrianto / Eko Siti Jenar.

Maka, di tengah derasnya arus informasi dan klaim kebenaran yang saling bertabrakan, umat dituntut untuk kembali kepada akar: memahami, bukan sekadar mengikuti. Karena dalam Islam, iman tanpa ilmu adalah rapuh, dan ilmu tanpa iman adalah kosong.

Baca juga
Memahami Dampak Psikologis dan Sosial dari Perubahan Iklim Global

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar.

Penulis: Eko Siti Jenar.

error: Content is protected !!