SITUBONDO (Reportase.today) – Proyek pembangunan jalan lingkungan di Desa Asembagus, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, menuai kritik tajam dari warga setelah kontraktor tetap memaksakan proses penggelaran aspal hotmix di tengah kondisi hujan dan permukaan jalan yang masih tergenang air. Pekerjaan yang dikerjakan oleh CV. Medyatama tersebut dinilai tidak sesuai standar konstruksi dan berpotensi merugikan masyarakat.
Pantauan langsung di lokasi pada Kamis (4/12/25) menunjukkan sejumlah titik jalan masih basah, berlumpur, bahkan terdapat beberapa genangan air. Meski kondisi jelas tidak ideal, pekerja tetap melakukan pengaspalan tanpa penghentian sementara. Situasi ini segera memicu keresahan warga yang menilai pekerjaan dilakukan asal-asalan.
Foto-foto yang diambil oleh masyarakat memperlihatkan lapisan aspal tampak bercampur air, tidak padat, dan tidak menyatu sempurna dengan permukaan dasar. Tekstur aspal pun terlihat bergelombang serta tidak merata di beberapa titik.
“Ini jelas tidak sesuai prosedur. Aspal digelar saat hujan, jalan masih becek. Kalau seperti ini, umur jalan tidak akan lama. Dana proyek besar tapi dikerjakan seperti ini, sangat merugikan masyarakat,” tegas Dicky, warga Asembagus yang menjadi narasumber utama.
Proyek ini tercatat memiliki nilai kontrak Rp 184.082.500 dari APBD 2025. Berdasarkan papan proyek, kegiatan tersebut meliputi:
- Nama kegiatan: Pembangunan Jalan Lingkungan Desa Asembagus
- Jenis kegiatan: Hotmix AC-WC
- Volume: 230 meter
- Sumber dana: APBD 2025
- Kontraktor pelaksana: CV. Medyatama
- Nomor kontrak: 003.3.1.156.43/PKP-APBD/631.3931/2025

Dengan anggaran mencapai lebih dari Rp 184 juta, warga mempertanyakan mengapa pekerjaan dasar seperti memastikan kondisi permukaan tetap kering dan padat justru diabaikan. Padahal, secara teknis, hotmix tidak boleh digelar di atas permukaan basah atau tergenang air karena berpotensi membuat struktur jalan cepat rusak.
Para ahli konstruksi juga menegaskan bahwa pengaspalan seharusnya dilakukan dalam kondisi cuaca cerah dan pada suhu tertentu agar hotmix dapat menyatu sempurna. Jika standar tersebut dilanggar, lapisan jalan akan mudah retak, mengelupas, bahkan bisa rusak total dalam waktu singkat.
Selain menyoroti kualitas pengerjaan, warga juga mempertanyakan keberadaan dan kinerja pengawas dari dinas terkait. Menurut mereka, mustahil proses pengaspalan tetap berjalan jika pengawas benar-benar turun dan mengontrol pekerjaan di lapangan.
“Kalau pengawas benar-benar turun, ini tidak mungkin dibiarkan. Kami curiga pengawasan lemah atau bahkan sengaja diabaikan,” tambah Dicky.
Kesan terburu-buru juga tampak jelas dari kondisi lapangan. Lapisan aspal terlihat menumpuk dan tidak merata, sementara beberapa bagian tampak tidak padat akibat tercampur air. Genangan air yang masih terlihat di tengah proses penggelaran memperkuat dugaan bahwa target penyelesaian dipaksakan tanpa mempertimbangkan kualitas.
Warga berharap pemerintah desa maupun dinas terkait segera mengevaluasi proyek ini sebelum terjadi kerusakan lebih parah setelah jalan digunakan. Mereka khawatir anggaran negara sebesar itu hanya terbuang percuma jika mutu proyek tidak diperbaiki sejak awal.





